• SMA NEGERI 1 BUKIT BATU
  • Bersinergi - Profesional - Semakin Bedelau

PELANGI DI TELUK ARU

Angin laut bertiup pelan ketika mentari pagi merayap naik dari balik cakrawala. Di sebuah kampung kecil di pesisir Teluk Aru, Sumatra Timur, seorang remaja bernama Nadra berdiri di dermaga tua, memperhatikan kapal-kapal nelayan yang baru kembali berlabuh. Di pelukannya, ia menggenggam sebuah buku catatan usang—bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan tempat ia menyimpan sesuatu yang terasa lebih berharga.

Hari itu menjadi awal proyek baru di sekolahnya: “Pahlawanku dalam Kebinekaan.” Setiap murid diminta menulis kisah tentang tokoh inspiratif Indonesia, terutama yang jarang dikenal publik.

Namun Nadra tidak ingin memilih nama besar seperti teman-temannya. Ia ingin bercerita tentang seseorang yang dekat—sangat dekat—dalam hidupnya.

Dan ia tahu tepat siapa tokoh itu.

Menelusuri jalan setapak menuju pusat kampung, Nadra merasakan denyut kehidupan Teluk Aru: sebuah desa kecil yang tumbuh dari keberagaman. Ada keluarga Jawa yang merantau untuk bertani, keluarga Batak yang dikenal sebagai tukang kayu, keluarga Melayu yang turun-temurun menjadi nelayan, serta keluarga Bugis dan Minang yang membuka usaha perahu dan kedai. Perbedaan bukan pemisah bagi mereka; justru menjadi akar yang saling menguatkan, seperti bakau yang bertahan dari derasnya arus.

Saat lewat, ia disapa Pak Darlan, pemilik warung kopi Bugis.

“Pagi, Ndra! Sudah siap wawancara pahlawanmu?”

“Masih proses, Pak. Doakan ya.”

“Pasti. Kampung ini selalu mendukungmu.”

Nadra tersenyum kecil dan melanjutkan langkah menuju sebuah rumah kayu berwarna cokelat tua di tepi pantai. Di depan rumah itu berdiri sebuah papan kecil:

“Rumah Belajar Syarif Abdul Hamid Al-Kailani”

Nama itu mungkin asing bagi orang luar, tetapi bagi Nadra, nama itu mengalir dalam darahnya. Rumah itu milik kakeknya.

Orang-orang memanggilnya Tuan Syarif. Ia bukan pahlawan yang wajahnya terukir di buku sejarah atau patung kota, namun bagi penduduk Teluk Aru, dialah orang yang berdiri paling depan saat kampung mereka nyaris dilanda konflik puluhan tahun silam.

Saat Nadra masuk, ia melihat kakeknya tengah menyapu halaman. Punggungnya sudah membungkuk, tetapi sorot matanya tetap hidup.

“Nadra kecilku,” sapanya lembut. “Proyek sekolah sudah dimulai?”

“Iya, Kek. Dan… aku ingin menulis tentang Kakek.”

Tuan Syarif terdiam, lalu berkata perlahan, “Pahlawan itu bukan gelar. Kakek tak yakin pantas—”

“Tapi aku yakin, Kek,” potong Nadra. “Aku tahu siapa Kakek bagi kampung ini.”

Senyum tipis muncul di bibir tua itu.

“Kalau begitu… mari kita mulai.”

Mereka duduk di beranda, ditemani debur ombak. Nadra membuka catatannya.

“Kek, ceritakan dari awal… mengapa Kakek disebut pahlawan kampung?”

Kakeknya memandang laut yang luas, seakan menggali kembali masa yang jauh.

“Itu tahun 1967,” ucapnya pelan. “Saat kerusuhan etnis merebak di banyak daerah.”

Nadra menegang. Ia pernah membaca sekilas tentang masa penuh kecurigaan dan ketakutan itu.

“Kampung kita ikut terseret. Orang-orang saling menuduh, saling waspada. Ada isu soal perebutan pelabuhan, ada kabar bohong tentang senjata. Hoaks tersebar dari mulut ke mulut.”

Ia berhenti sejenak.

“Kakek tak bisa berdiam diri. Kampung kita terbentuk dari macam-macam suku—Melayu, Batak, Jawa, Bugis, Cina perantau, Minang. Mereka hidup berdampingan puluhan tahun. Tapi satu percikan saja bisa menghancurkan semuanya.”

Dengan langkah berat, Tuan Syarif mendatangi rumah-rumah tokoh kampung. Ada yang menolak, ada yang marah, tetapi ia terus mengetuk pintu siapa pun tanpa membedakan suku atau keyakinan.

Setelah mereka berkumpul, ia mengajak bicara: tentang ketakutan, tentang bagaimana menghindari perpecahan.

“Kakek tidak mengangkat senjata. Kakek hanya berusaha menjaga perbedaan agar tidak berubah menjadi dinding yang memisahkan. Itu perjuangan yang paling berat.”

Nadra membayangkan semua risiko yang ia hadapi—ketegangan, kemarahan, dan kemungkinan gagal. Mungkin kisah itu tak tertulis di buku sejarah, tetapi bagi kampung ini, perjuangan kakeknya menyelamatkan banyak nyawa.

“Sejak itu,” lanjut Tuan Syarif, “setiap keluarga menanam pohon bakau sebagai tanda bahwa akar kita saling merangkul.”

Nadra tersenyum. “Kek… Kakek itu pahlawan. Pahlawan kebinekaan.”

Namun kakeknya menggeleng.

“Pahlawan bukan yang paling kuat. Bukan pula yang paling berani. Pahlawan adalah seseorang yang menjaga hatinya agar tidak ikut pecah ketika dunia dipenuhi kebencian.”

Seminggu kemudian, ketika Nadra membacakan ceritanya di kelas, ruangan mendadak sunyi. Ia menceritakan kampung yang beragam, masa kelam yang hampir memecah belah mereka, dan seorang lelaki yang berdiri di tengah badai, memilih dialog daripada amarah.

Tepuk tangan panjang mengisi ruangan saat ia selesai.

“Cerita ini bukan sekadar tentang pahlawan,” ujar gurunya. “Ini tentang bagaimana kebhinekaan dijaga.”

Malam harinya, Nadra kembali ke rumah kakeknya. Ternyata warga kampung sudah berkumpul, membawa lampu-lampu minyak yang menerangi halaman seperti cahaya hangat yang merayakan kebersamaan.

“Nadra! Kami bangga!”

“Cucu Tuan Syarif memang hebat!”

Kakeknya berdiri di tengah mereka, mata berkaca–kaca.

“Ceritamu jauh lebih kuat dari apa pun yang Kakek lakukan dulu,” katanya. “Karena ceritamu membuat kisah ini tetap hidup.”

Nadra memeluknya erat.

“Terima kasih, Kek. Dari Kakek, aku belajar arti menjadi Indonesia.”

 

Di bawah langit malam yang dipenuhi bintang, suara tawa dan percakapan dari berbagai bahasa daerah menyatu seperti harmoni yang tak pernah padam.

Saat itu Nadra menyadari: kebinekaan bukan hanya warisan masa lalu. Ia harus terus dirawat setiap hari—oleh siapa saja, kapan saja.

Termasuk dirinya.

Dan ia berjanji suatu hari nanti, ia akan menjadi penjaga pelangi itu.

Karya : Refan Handoko

Kelas: XI 4

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
PERTANDINGAN ANTAR KELAS DALAM RANGKA BULAN BAHASA TAHUN 2025

Dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa, OSIS SMA Negeri 1 Bukit Batu menyelenggarakan pertandingan cipta cerpen antar kelas dengan mengusung tema “Berkebhinekaan dan Pahlawanku&rdq

01/12/2025 11:17 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 96 kali
Pertandingan Antar Kelas dalam Rangka Hari Pahlawan

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, OSIS SMA Negeri 1 Bukit Batu mengadakan pertandingan Short Movie antar kelas sebagai bentuk kreativitas siswa dalam meneladani semangat perjuang

01/12/2025 08:03 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 93 kali
CAHAYA ITU BERNAMA KARTINI

Langit sore mulai terlihat di atas sekolah. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah setelah hujan. Di pojok perpustakaan, di sanalah aku duduk di depan layar laptop yang menampi

29/11/2025 20:50 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 136 kali
PUTIH : DESTINASI TERAKHIR KERETA PARA PENJAGA INDONESIA

Malam tiba dengan perlahan di kota kecil itu, bak tirai hitam yang ditarik oleh angin menuju langit. Di malam gelap itu, hujan turun layaknya benang-benang tipis. Theo berjalan tanpa ar

29/11/2025 20:45 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 161 kali
STRUKTUR OSIS SMA NEGERI 1 BUKIT BATU PERIODE 2025-2026

Pelindung / Penasehat : Luqman Hakim, M.Pd (Kepala SMAN 1 Bukit Batu) Penanggung jawab      : Rais Triono, S.Pd (Wakil Kesiswaan) Pengurus Harian      &n

31/10/2025 11:30 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 196 kali
Pemilihan Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS Periode 2025-2026

Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMA Negeri 1 Bukit Batu merupakan salah satu agenda penting dalam rangka regenerasi kepemimpinan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menjadi wadah p

29/09/2025 11:47 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 229 kali
Judi Bola slot gacor bocoran admin jarwo slot gacor bocoran admin jarwo
>